Area halal haram terhadap daging babi

Kios daging dipasar yang mencampurkan penjualan daging sapi dan babi mengundang bahaya. Banyak ditemukan titik kritis keharamannya.

Peristiwa bakso daging sapi bercampur daging babi membuat masyarakat muslim trauma, diantaranya bagaimana daging celeng bisa dengan mudah diperoleh, dan apakah tidak ada yang mengaturnya ? humas LPPOM, farid, mengungkapkan mata rantai produksi dan distribusi bahan cukup panjang: rumah pemotongan hewan (RPH), tempat penjualan, tempat penggilingan daging hingga pengolahan.

Semua mata rantai ini harus dicermati titik kritis keharamannya. Selain itu banyak sistem jaminan halal (SJH) sebagai salah satu prasyarat dilakukannya sertifikasi halal, belum dipenuhi. Di sinilah diperlukan peran pemerintah untuk melakukan penertiban dan pembinaan.

Bahaya Kontaminasi

LPPOM MUI, sebagai satu-satunya lembaga yang menjamin kehalalan produk, hingga saat ini terus meminta pighak pemerintah daerah, segera mengeluarkan peraturan tentang tataniaga peredaran daging babi dan celeng. Daging celeng hanya boleh diperjual belikan untuk kebutuhan khusus ternak(buaya misalnya) dan tidak boleh beredar di pasar-pasar. Sedang kan untuk daging babi, perlu tempat khusus yang tidak berdekatan atau bahkan bercampur dengan daging yang halal. Faktanya,  bila kita melihat di hipermarket atau psar modern. Lokasi penjualan mereka satu area. “ini berbahaya bila tempatnya masih campur aduk. Daging yang semula halal akan menjadi haram karena telah terkontaminasi,” tekan farid melalui pesan singkatnya.

Kontaminasi, yang terjadi bukan hanya dagingnya, tetapi juga cemarannya, seperti darah, bulu, bahkan bau, yang jika berdekatan sangat memungkinkan cemarannya untuk terbawa angin dan menempel pada daging sapi. Apalagi peralatan yang dipakai untuk daging babi dipakai juga untuk daging sapi.

Karena itu mengingat yang menguasai pasar-pasar adalah pemerintah kota atau kabupaten, diperlukan adanya peraturan daerah dalam pembagian kios saji. Sedangkan secara nasional, perlu segera disahkan rancangan undang-undang jaminan prodk halal (RUU JPH) yang bisa memberi perlindunga lebih kuat bagi hak-hak konsumen muslim.

Pasar tradisional aman

Dibeberapa pasar tradisional, dikota tangerang misalnya, diwilayah ini tempat penjualan daging memiliki batas yang jelas dan agak jauh. Letak kios daging babi, relatif lebih jauh dari kios daging halal. Daging babi berbeda dengan daging lainnya karna bagian dari daging ini (sum-sum, tulang, kulit, bulu, enzim, minyak serta selurh badannya diharamkan dalam islam). Para ilmuwan menjelaskan tabiat babi yang kotor memakan segalanyan termasuk bangkai dan kotorannya sendiri, mengeluarkan 2% dari seluruh toxic uric acid, sedangkan sisanya 98% tersimpan didalam tubuh menyatu dalam darah dan dagingnya, sedang hewan lain mengel arkan 90% lebih toxid uric acid (racun asam urat) melalui urin dan fesesnya.

Babi tidak memiliki leher sebagai syarat pemotongan hewan untuk mengeluarkan sebagian besar darahnya sehingga darah babi mengandung uric acid menumpuk pada sel daging dan lemaknya. Al quran juga secara tegas mengharamkan babi dengan segala turunannya.

Sertifikasi halal yang dikeluarkan LPPOM MUI sudah pasti melalui dua pengujian, yang pertama melalui uji cepat menggunakan tes deteksi babi (pork detection kits) selanjutnya dilakukan pendeteksi ada tidaknya DNA Babi. Setelah itu diuji lanjut dengan akurasi yang lebih tinggi, yakni polymerase chain reaction, sayangnya hal yang sangat penting inibagi sebagian produsen label halal masih dianggap sukarela, bukan kewajiban sebagai tanggung jawabnya kepada konsumen muslim.